Gliserol karbonat, potensi produk samping biodiesel
Produksi biodiesel dan masalahnya
Jika boleh beropini, sepanjang tahun 2000-an, dunia akademi dan penelitian di Indonesia mengalami gegap gempita euforia biodiesel. Memang biodiesel sangat menjanjikan sebagai bahan bakar pilihan disamping bahan bakar turunan minyak bumi. Biodiesel juga digadang-gadang sebagai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena lebih rendah buangan polutan CO, SOx, partikel halus, smog, bahkan polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) saat dibakar dibanding minyak diesel turunan minyak bumi [1]. Teknologi pembuatannya mudah dan murah, kaum ilmuwan dan industri Indonesia juga sudah siap, lahan tersedia, ragam bahan baku melimpah, so what else?! Bahkan kabar terbaru menyebutkan bahwa Jepang sudah bersiap membangun pabrik biodiesel di Indonesia [2] yang artinya aplikasi biodiesel di wilayah Indonesia sudah mendekati fasa industrialisasi dan komersialisasi.
ChemSpider, mesin pencari data kimia
Royal Society of Chemistry mengumumkan bahwa dia telah mengakuisisi sebuah proyek mesin pencari (search engine) berdasarkan struktur kimia yang mampu mencari dan memberikan data jutaan informasi sifat fisika dan kimia senyawa-senyawa kimia. Mesin pencari yang diberi nama ChemSpider didukung oleh sumber data yang terpercaya dari pustaka ilmiah maupun sumbangan dari narasumber komunitas kimia dan teknik kimia. Untuk senyawa yang belum teridentifikasi, sifat-sifat kimia-fisikanya dihitung dengan pendekatan menggunakan program ACD/LAB. Pengembang Chemspider mengatakan bahwa data-data yang diberikan dapat digunakan sebagai data skunder yang layak disertakan dalam publikasi.
Pencarian data senyawa bisa dimulai dari nama dagang, penamaan menurut IUPAC, identifikasi nomor registrasi (CAS), penamaan struktur metode SMILES dan InChI. Tabulasi data yang diberikan bisa meliputi struktur kimia, informasi umum semacam Wikipedia, daftar literatur ilmiah terkait, data fisika (dari eksperimen maupun pendekatan komputasi) maupun daftar paten terkait.

tinggalkan komentar