Penerapan fluida superkritis untuk fitofarmaka Indonesia
Baru saja kita mendengar kisah pengajuan hak paten terhadap senyawa aktif yang terkandung pada temulawak (Curcuma xanthorrhiza) yang dilakukan oleh perusahaan asing di negara lain (Hardhi Pranata, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) pada Konferensi Internasional Tanaman Obat-obatan, 19-21 Oktober 2010, Jakarta, Kompas online, rubrik Health, Kamis, 21 Oktober 2010). Situasi tersebut seharusnya segera menyadarkan kita terhadap bahaya pembajakan sumber daya genetik atas keanekaragaman fitofarmaka asli Indonesia termasuk potensi dari kekayaan lautnya.
Memisahkan dan menyimpan gas asetilen menggunakan cecair ionik. Proses “super hijau”
Latar belakang
Gas asetilen (C2H2) diperoleh terutama melalui proses pembakaran metan atau sebagai produk samping perengkahan nafta atau gas alam [1,2]. Dalam proses pemurniannya, hasil perengkahan tadi dialirkan ke dalam kolom untuk diekstrak menggunakan pelarut organik N,N-dimetilformamida (DMF) atau N-metilpirrolidone (NMP) demi mendapatkan asetilen yang terpisah dari fraksi gas lain (etilen) [3]. Tapi proses ini bukannya tanpa masalah karena pelarut organik yang digunakan termasuk beracun dan mudah lepas ke lingkungan karena kesetimbangan tekanan uapnya relatif tinggi (sifat khas pelarut organik yang mudah menguap).

tinggalkan komentar