How Green Can You Go ?

Biodiesel generasi kedua menuju bahan bakar yang lebih hijau

Posted in teknologi hijau by mAthA inggin bixara on Juli 21, 2010

Tak dipungkiri memang kita harus mulai memikirkan lebih serius masalah ketersediaan terbatas lawan kebutuhan membengkak akan bahan bakar. Biodiesel sebagai salah satu bahan bakar terbaharukan yang bersumber dari bahan nabati kini mendapat perhatian istimewa dari khalayak ilmuwan dan industriawan Indonesia dan dunia. Pemerintah Indonesia meramalkan bahwa pada tahun 2025 konsumsi terhadap energi terbarukan bakal mencapai 17% dari total konsumsi dengan presentase mencapai 5% untuk pemakaian bahan bakar bio (biodiesel maupun bioethanol). Roadmap pengembangan biodiesel Indonesia menurut Departemen Energi dan Sumberdaya Alam menyebutkan bahwa tahun 2011-2015 pemakaian biodiesel akan sebesar 15% dari total konsumsi bahan bakar mesin diesel dan selanjutnya bisa mencapai 20% pada periode 2016-2025.

 

Perkembangan biodiesel G1 dan G2

Selama ini biodiesel generasi pertama (G1) telah diproduksi dan digunakan secara luas baik dalam bentuk murninya maupun sebagai campuran dengan bahan bakar diesel turunan minyak bumi. Apa itu biodiesel G1? Biodiesel ini dikenal sebagai metil ester asam lemak (fatty acid methyl ester, FAME) yang diperoleh dari proses transesterifikasi minyak nabati (trigliserida) dengan metanol menggunakan katalis. Untuk setiap konversi satu molekul trigliserida bakal menghasilkan tiga molekul FAME dan satu molekul produk samping yaitu gliserol.

Biodiesel G1 walaupun sudah dinyatakan siap diaplikasikan, namun masih memiliki beberapa masalah kompatibilitas terhadap mesin diesel saat ini. Masalah tersebut diantaranya adalah korosi akibat kandungan atom oksigen yang tinggi dari FAME dan maksimum konsentrasi yang diijinkan sebagai campuran dengan minyak diesel turunan minyak bumi (petrodiesel). Dalam kaitannya dengan emisi gas rumah kaca karbon dioksida, kontribusi emisi karbon dioksida dari pembakaran FAME juga dikawatirkan masih relatif tinggi (akibat dari kandungan oksigen yang tinggi pada FAME). Untuk membantu mengatasi masalah tersebut di atas, biodiesel generasi ke dua (G2) dengan spesifikasi mendekati petrodiesel juga telah dikembangkan.

Prinsipnya, biodiesel G2 merupakan hidrokarbon turunan dari minyak nabati yang mengalami proses hidrogenasi (hidroproses). Melalui jalur ini, aneka minyak nabati, lemak binatang atau campuran biominyak dan minyak bumi bahkan minyak nabati bekas pakai (misalnya, waste cooking oil) bisa diproses sekaligus menghasilkan aneka fraksi hidrokarbon yang siap dipisah-murnikan. Sebagai contoh, hidroproses minyak kelapa sawit, minyak kedelai atau minyak biji bunga matahari menghasilkan turunan hidrokarbon dengan rantai karbon 15 hingga 18 sebagai produk utama. Jadi, berbeda dengan hidrogenasi minyak nabati dalam industri makanan yang bukan ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar. Pada hidroproses minyak nabati, terjadi rangkaian reaksi berupa hidrogenasi pada ikatan rangkap karbon-karbon, dekarboksilasi (menyingkirkan gugus karboksilat), dekarbonilasi (menyingkirkan gugus karbonil), isomerisasi, dan perengkahan. Hidroproses minyak nabati mentah menawarkan proses yang lebih efisien tanpa menghasilkan hasil sampingan kecuali air dan CO2. Terlebih, hidroproses untuk menghasilkan biodiesel langsung dapat memanfaatkan teknologi pemurnian petroleum yang sudah mapan, misalnya hidrogenasi pada proses eliminasi sulfur yang terkandung dalam minyak bumi.

 

Skema umum sintesa biodiesel G2 dari minyak nabati

Mengapa biodiesel G2?

Hidroproses bisa menghasilkan biodiesel G2 dengan kadar oksigen jauh lebih rendah bahkan mendekati nol sehingga masalah korosi mesin dapat dihindari. Demikian juga emisi dari pembakaran biodiesel G2 bakal lebih sedikit mengandung CO2 atau CO. Biodiesel dari hidroproses juga sangat sesuai dengan kondisi mesin diesel yang digunakan saat ini karena mampu mencapai bilangan cetane 55 hingga 90 (bandingkan dengan bilangan cetane minyak diesel yang beredar saat ini sebesar 40-45). Dengan kondisi demikian, konsentrasi biodiesel yang diijinkan dalam campuran biodiesel-petrodiesel bakal semakin tinggi tanpa perlu memodifikasi perangkat mesin. Salah satu kekurangan dari biodiesel G2 barangkali adalah sifatnya yang mudah membeku pada suhu dibawah 20 oC. Tentu saja masalah tersebut hanya relevan di wilayah empat musim sedangkan di Indonesia bukan persoalan sama sekali. Hal tersebut dapat diatas dengan penambahan katalis atau melakukan pencampuran.

Hingga saat ini biodiesel G2 belum digunakan secara komersial namun beberapa industri besar telah siap memproduksinya dalam ukuran massal. UOP (A Honeywell Company) sebuah perusahaan Amerika Serikat demikian juga Petrobas, Brazil pemegang hak cipta hidroproses minyak nabati merintis produksi biodiesel G2 dengan kapasitas mencapai 400 kiloton pertahun. Perusahaan lain yang bergelut dalam bidang pemurnian minyak bumi semacam ConocoPhillips dan Neste Oil juga telah memiliki dan menjalankan program serupa. Bilakah Indonesia memulainya?

Salam hijau!

  • Artikel yang sama pernah ditayangkan pada Koran Tempo edisi Rabu, 21 Juli 2010, Rubrik Iptek, Kolom Periskop.

 

Tagged with: , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. vadoc said, on Juli 1, 2011 at 11:22 am

    salam kenal,, boleh request artikel tentang pembuatan biodiesel lagi? hihihhi tentang perkembangan terbarunya
    yang G3 pakai alga yah? Kabarnya di Kobe tahun 2009 yang lalu sudah ada skala Lab untuk membuat biodiesel dengan enzymatic process, betul tak?

  2. vadoc said, on Juli 1, 2011 at 11:28 am

    oh ya, kalau mau mencari informasi pembuatan biodiesel G2 lebih detail dimana yah? bisa bagi linknya? thanks🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: