How Green Can You Go ?

Penerapan fluida superkritis untuk fitofarmaka Indonesia

Posted in teknologi hijau by mAthA inggin bixara on Desember 15, 2010

Baru saja kita mendengar kisah pengajuan hak paten terhadap senyawa aktif yang terkandung pada temulawak (Curcuma xanthorrhiza) yang dilakukan oleh perusahaan asing di negara lain (Hardhi Pranata, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) pada Konferensi Internasional Tanaman Obat-obatan, 19-21 Oktober 2010, Jakarta, Kompas online, rubrik Health, Kamis, 21 Oktober 2010). Situasi tersebut seharusnya segera menyadarkan kita terhadap bahaya pembajakan sumber daya genetik atas keanekaragaman fitofarmaka asli Indonesia termasuk potensi dari kekayaan lautnya.

Jika kita ingin menjadi tuan di rumah sendiri dalam industri fitofarmaka Indonesia maka sudah sepantasnya kalangan industri farmasi, jamu maupun kosmetik Indonesia gencar meningkatkan penelitian dan pengembangan aplikatif. Salah satu ikhtiarnya adalah termasuk menggunakan metode pemisahan dan pemurnian senyawa aktif yang lebih maju. Misalnya, minyak atsiri merupakan sebuah campuran aneka senyawa organik dan hanya beberapa senyawa tertentu saja yang kiranya bermanfaat dalam pengobatan atau terapi. Dengan proses pemisahan yang lebih canggih diharapkan produktifitas serta selektifitas isolasi seyawa aktif dapat meningkat sehingga ribuan senyawa aktif alami dapat segera dipetakan, diteliti dan selanjutnya dimanfaatkan. Perlu diketahui bahwa ternyata selama ini Indonesia telah menjadi produsen minyak atsiri rangking tiga dunia dengan peningkatan ekspor 10% pertahun (buletin Export News Indonesia, Vol. 1(II) 2008, Badan Nasional untuk Pengembangan Ekspor).

Ekstraksi dengan fluida superkritis

Salah satu usaha yang layak diperhitungkan demi meningkatkan produktifitas sekaligus meningkatkan mutu ekstraksi senyawa aktif bahan alam adalah dengan diversifikasi proses isolasi bahan alam. Selama ini kalangan industri lokal masih bersandar pada teknologi pemisahan konvensional misalnya distilasi uap atau ekstraksi menggunakan pelarut organik. Alangkah baiknya jika kita mulai melirik teknologi pemisahan menggunakan fluida superkritis. Selain digadang-gadang sebagai teknologi pemisahan yang lebih hijau, fluida superkritis juga menawarkan kinerja yang sering kali lebih unggul ketimbang teknologi konvensional. Kenyataannya, teknologi ini sudah lama digunakan dalam proses penghilangan kafein pada kopi.

Diagram fasa fluida dan wilayah superkritisnya

Secara sederhana fluida superkritis adalah fluida yang berada pada kondisi diatas suhu dan tekanan kritisnya sehingga tidak tampak adanya pemisahan fasa. Fluida superkritis dapat berdifusi dalam padatan layaknya perilaku gas atau dapat melarutkan zat lain sebagaimana tingkah laku zat cair. Selama ini yang cukup populer digunakan dalam industri ekstraksi senyawa bahan alam adalah fluida superkritis CO2 (karbon dioksida). Disamping itu, methanol, dimetilether atau kombinasi CO2 dengan aditif methanol, dimetilether, atau air juga dapat diterapkan untuk proses pemisahan senyawa aktif.

Bagaimanapun juga penggunaan fluida superkritis CO2 masih lebih menguntungkan dalam proses ekstraksi terlebih karena untuk mencapai keadaan superkritis cukup dibutuhkan tekanan 73.9 bar dan suhu 31.1 °C yang dikatakan relatif lembut (bandingkan dengan methanol yang membutuhkan kondisi 239.5 °C dan 81 bar). Pada kondisi CO2 superkritis, aneka senyawa target diharapkan tidak mengalami kerusakan atau perubahan kimiawi. Jalannya proses bisa terbilang mudah dan langsung dapat diterapkan pada material padatan, misalnya cacahan daun. Setelah proses penglarutan dan ekstraksi berulang-ulang, campuran fluida dan bahan aktif bisa dipisahkan dengan cara menurunkan tekanan. Fluida superkritis CO2 memiliki sifat non-polar dan lebih mudah melarutkan lemak sedangkan kebanyakan senyawa aktif yang memiliki nilai ekonomis bersifat polar. Masalah tersebut dalam proses ekstraksi mudah diatasi dengan menambahkan sedikit fluida lain sebagai pengatur kepolaran, misalnya air atau methanol.

Banyak penelitian telah membuktikan bahwa selektifitas ekstraksi menggunakan fluida superkritis lebih tinggi ketimbang mengunakan cara konvensional. Hal ini terutama dipengaruhi oleh sifat fisika-kimia fluida tersebut dan proses transfer massa yang terjadi. Sementara itu, jika pemisahan dilakukan menggunakan pelarut air, misalnya pada sistem distilasi uap, hampir semua senyawa aktif polar bakal terangkut. Selektifitas tentu saja memberikan keuntungan tersendiri karena proses lanjutan untuk mendapatkan senyawa aktif murni tidaklah lagi panjang dan rumit. Pada akhirnya teknologi fluida superkritis bisa diterapkan dalam berbagai industri lain, misalnya, makanan, pewarnaan, consumer good, pengolahan limbah, maupun sintesa kimia.

Salam hijau!

  • Tulisan dengan judul yang sama telah dimuat pada rubrik Periskop, halaman Ilmu dan Teknologi, Koran Tempo terbitan 16 Desember 2010.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: